Pelatihan

Ketua KPU Husni Kamil Manik, peneliti ERI Sri Nuryanti dan Sri Yanuarti, dan Country Director AEC Indonesia Shan Strugnell foto bersama peserta workshop jurnalis peliput pemilu.

Ketua KPU Husni Kamil Manik, peneliti ERI Sri Nuryanti dan Sri Yanuarti, dan Country Director AEC Indonesia Shan Strugnell foto bersama peserta workshop jurnalis peliput pemilu.

 

PEMILU Legislatif dan Pemilu Presiden 2014 telah selesai dilaksanakan dan disebut-sebut sebagai salah satu penyelenggaraan pemilu yang terbaik sejak Reformasi 1998. Di lain pihak ada banyak kelemahan dan persoalan yang perlu dijawab untuk memperbaiki kualitas penyelenggaraan pemilu di masa datang. Selain itu Pemilu 2014 juga masih meninggalkan persoalan serius sehubungan menajamnya dua kubu di parlemen sebagai ekses Pemilu Presiden langsung yang sengit.

Situasi ini seakan menempatkan kemajuan demokrasi yang dicapai melalui pemilu berada di simpang jalan. Apakah pilihan-pilihan sistem pemilu akan menguatkan demokrasi dan apakah pemilu legislatif dan pemilu presiden/kepala daerah akan semakin demokratis ataukah sebaliknya. Persoalan-persoalan ini perlu dijawab tidak hanya oleh para politisi tetapi juga oleh masyarakat luas, termasuk kalangan akademisi dan media.

Atas dasar pemikiran tersebut Electoral Research Institute (ERI) bekerjasama dengan Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan Lembaga Studi Pers dan Pembangunan (LSPP) menyelenggarakan Workshop Jurnalis Pemilu dengan tema “Kolaborasi Jurnalis dan Peneliti untuk Pemilu yang Berkualitas” pada 17 dan 18 Januari 2015. Kegiatan ini diadakan di Media Center KPU, Jln Imam Bonjol, Jakarta. Selama dua hari, sekitar 19 jurnalis yang bekerja untuk media cetak, online maupun TV, mengikuti workshop yang didukung oleh Australian Electoral Commission (AEC) Indonesia.

Menurut Sri Nuryanti, peneliti ERI, workshop ini untuk memperkaya pemahaman dan wawasan jurnalis dalam liputan kepemiluan. Selama ini liputan pemilu hanya membawa pesan yang bias kepentingan tertentu. Seperti diketahui, beberapa pemilik media menjadi petinggi partai politik peserta pemilu. “Jurnalis perlu menambah pemahaman soal liputan pemilu yang berbasis riset. Banyak riset-riset kepemiluan yang perlu diungkap, dan riset ini berkontribusi pada perbaikan dan koreksi atas regulasi kepemiluan,” ujar Nuryanti yang pernah menjadi komisioner KPU.

Kerjasama LIPI dan KPU dalam bidang riset kepemiluan dan pembentukan Electoral Research Institute (ERI) akan memungkinkan para peneliti politik dan kepemiluan di tanah air untuk memberikan kontribusi yang lebih konkret untuk meningkatkan kualitas sistem, peraturan perundang-undangan, dan tata kelola pemilu yang lebih berkualitas. Kerja-kerja akademik ini akan menjadi makin bermakna apabila dikolaborasikan kerja-kerja jurnalistik yang pada dasarnya memiliki keprihatinan yang sama dengan kalangan akademisi. Kerja jurnalistik yang sangat erat kaitannya dengan pembentukan opini publik akan juga akan lebih bermakna apabila didasarkan pada kedalaman informasi, riset dan kajian, serta investigasi.

Peneliti ERI Sri Yanuarti mengungkapkan, workshop ini bertujuan untuk membangun kolaborasi antara periset dengan jurnalis agar memiliki bahasa yang sama untuk dapat dipahami masyarakat luas. “Jurnalis diharapkan dapat melaporkan lebih dalam, tidak hanya isu-isu di permukaan seperti sengketa pemilu atau kerusuhannya saja. Jurnalis harus kritis terhadap kebijakan-kebijakan kepemiluan,” kata Yanuarti. ***