Linda Christanty Bimbing Penerima Beasiswa Menulis Naratif

Linda Christanty melatih mahasiswa penerima beasiswa Narrative Writing Scholarship

SETIAP tempat di Indonesia punya beragam cerita. Tapi bagaimana bisa memperoleh cerita menarik jika tidak punya kawan, kenalan, atau narasumber di wilayah yang didatangi? Linda Christanty punya saran menarik. Anda bisa meminta bantuan pengendara ojek. Selain mengantar ke tempat tujuan, para pengojek biasanya juga seorang kawan bicara yang menyenangkan. Mereka adalah pemandu yang sedikit banyak mengetahui kondisi dan dinamika sosial yang terjadi di daerah tersebut. Ini setidaknya akan membantu seseorang yang ingin menulis cerita tentang suatu tempat.

“Kalau tidak punya akses, maka kita bisa minta bantuan kepada tukang ojek. Jadi berterimakasihlah kepada mereka,” kata Linda di hadapan peserta pelatihan menulis naratif yang diadakan Lembaga Studi Pers dan Pembangunan (LSPP) di Hotel Treva, Jakarta, pada pertengahan Maret lalu. Kegiatan ini didukung oleh GEF-SGP.

“Hidup tukang ojek,” katanya, lagi, disambut tawa para peserta.

Selama dua hari penuh, bersama kurator foto dari Galeri Foto Jurnalistik Antara, Gunawan, dan beberapa mentor dari LSPP, Linda membimbing sebanyak 10 penerima beasiswa Narrative Writing Scholarship. Mereka datang dari Pekan Baru, Semarang, Jogjakarta, Madura, Kupang, Pontianak, Manado, dan Papua. Para penerima beasiswa ini merupakan mahasiswa-mahasiswa punya latarbelakang yang beragam. Tapi masing-masing memiliki minat dan antusiasme yang sama: menulis kisah dan cerita tentang pelosok Indonesia.

Linda juga berbagi tips tentang penulisan. Dari pengalamannya, sebelum turun ke lapangan, seorang penulis sebaiknya telah membuat perencanaan yang setengah matang. Rencana itu meliputi pengetahuan menyangkut latarbelakang daerah yang akan dikunjungi, daftar pertanyaan dan sumber yang akan diwawancara, topik yang hendak diangkat, hingga uraian kerangka tulisan.

“Supaya liputan lebih terarah. Tapi rencana bisa berubah, tergantung kondisi dan situasi di lapangan,” terang Linda. Lewat perencanaan yang baik, para peserta diharapkan dapat menggali lebih dalam cerita-cerita dari lapangan.

Selepas mengikuti pelatihan, 10 penerima beasiswa akan dibiayai untuk melakukan perjalanan dan reportase ke 5 wilayah di Indonesia.

“Masing-masing wilayah itu yang dikunjungi punya cerita-cerita menarik. Wilayah-wilayah itu adalah mitra dampingan GEF-SGP,” kata Catharina Dwihastarini, di sela pelatihan. Ia mewakili GEF-SGP.

“Saya berharap, selain mengangkat keragaman dan keunikan, tulisan teman-teman bisa juga membawa kesegaran dan inspirasi buat anak-anak muda,” kata Samiaji Bintang, direktur LSPP.

 

DSC_1917 DSC_1927 DSC_1953 DSC_1777
Masing-masing peserta akan melakukan liputan antara lain ke perkampungan nelayan di Serdang Bedagai (Sumatera Utara), ke komunitas perajin tenun lokal di Jogjakarta, perkampungan nelayan di Brebes (Jawa Tengah), petani dan pendaras nira di Banyumas (Jawa Tengah), ke perkampungan masyarakat adat Tenganan di Bali, dan ke masyarakat adat di Kefa (Nusa Tenggara Timur) yang mengembangkan tenun tradisional.

Disamping keberhasilan merawat keunikan dan kearifan lokal, masyarakat di wilayah-wilayah tersebut mengalami beragam tantangan. Sebagian besar masih terus berjuang menghadapi kesulitan.

“Ini bisa menjadi bahan-bahan tulisan. Karena tulisan yang menarik biasanya bercerita tentang perjuangan manusia mengatasi hambatan dan kesulitan,” ujar Linda. ***

Leave a Comment

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>